RANGKUMAN MATERI BIMBINGAN KONSELING

Posted: November 2, 2012 in Tugas Kuliah
Tag:

BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR

Bab IV , No 4 – 6

 

Oleh :

Sunaryo Kartadinata, dkk.

4. IDENTIVIKASI KETUNA-CAKAPAN BELAJAR

Prosedur dan metode pengajaran untuk murid yang mengalami tuna cakap memiliki prinsip – prinsip dasar yang perlu dipahami guru. Antara lain

  1. Tekhnik evaluasi diberikan dalam bahasa anak agar dapat dipahami.
  2. Tidak berprosedur tunggal dalam penentuan proggram belajar bagi anak berkesulitan belajar.
  3. Evaluasi harus dilakukan oleh tim dari berbagai disiplin.

Berikut merupakan prosedur lain dalam menilai murid yang diduga tuna cakap ( Kantor Pendidikan Amerika 1997 ) :

  1. Penambahan anggota tim ( guru tetap dan psikolog )
  2. Kriteria menentukan ketunacakapan belajar yang khusus
    1. Dikatakan mengalami tuna cakap jika tidak dapat mencapai prestasi sesuai usia dan tingkat kecakapan.
  • Ekspresi lisan
  • Mendengarkan pemahaman
  • Ekspresi tulisan
  • Keterampilan membaca dasar
  • Membaca pemahaman
  • Perhitungan matematis
  • Berpikir matematis
  1. Seorang murid tidak diidentivikasi mengalami ketunacakapan jika kesenjangan prestasi disebabkan oleh :
  • Hambatan visual, pendengaran, atau motorik
  • Keterbelakangan mental
  • Gangguan emosional
  • Ketakberuntungan lingkungan, kultural atau ekonomi
  1. Obsevasi
  • Pengamatan kegitan belajar murid di kelas
  • Mengamati murid dalam lingkup yang cocok baginya.

 

  1. Laporan tertulis
  • Mempersiapkan laporan tertulis hasil evaluasi
  • Yang meliputi :

–          Jenis tuna cakap apa yang dialami oleh murid

–          Dasar yang digunakan dalam menentukan ketunacakapannya

–          Perilaku – perilaku yang tercatat selama pengamatan

–          Hubungan perilaku dan keberfungsian belajar murid

–          Temuan – temuan medis yang relevab dengan pendidikan

–          Kesenjangan antara prestasi dan kecakapan yang tak dapat diatasi tanpa pendidikan khusus

5. FAKTOR – FAKTOR YANG MENIMBULKAN KETUNACAKAPAN BELAJAR

Setelah seorang guru mampu mendiagnosis murid yang mengalami tuna cakap, selanjutnya harus memehami faktor – faktor yang menyrbabkan ketunacakapan.

Jerome Rosner ( 1993 ) melihat bahwa ketunacakapan di sekolah dasar ialah keterlambatan dalam perkembangan keterampilan perseptual dan kecakapan dasar bahasa.

Selanjutnya, Kephart ( 1967 ) mengelompokkan penyebab ketunacakapan kedalam kategori utama, yaitu :

  1. Kerusakan Otak

Terjadinya kerusakan syaraf seperti , encephalistis, meningitis, dan toksik, atau minumal brain dysfunction pada saat lahir.

  1. Faktor gangguan emosional

Terjadi karena adanya trauma emosional berkepanjanganyang mengganggu fungsional sistim urat syaraf, yang tampak seperti faktor kerusakan otak.

  1.  Faktor Pengalaman

Lebih condong pada keterkaitan lingkungan atau masalah ekonomi, yang menghambat terpenuhinya penunjang peningkatan keterampilan.

Faktor – faktor  penyebab yang diuraikan di atas menggambarkan suatu urutan yang berkulminasi pada kondisi yang menimbulkan kegagalan belajar yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Keterangan :

  1. Tataran I menunjukkan penyebab asali
  2. Tataran II yang cenderung pada kerusakan otak
  3. Tataran III kesulitan – kesulitan yang terjadi pada tataran II
  4. Tataran IV akan banyak melibatkan tim pendidik dalam pelayanan pendidikan

 

6. TEKNIK MEMBANTU ANAK TUNA CAKAP BELAJAR DAN PENCEGAHANNYA.

            Cartwright ( 1984 ) mengemukakan tentang cara mengajar murid tuna cakap, yaitu :

  1. Bagi murid yang memiliki masalah pendengaran dan pengelihatan.
    1. Guru duduk seperti murid di depan kelas
    2. Memberi tugas kelompok dan dibantu temannya yang membantu menjelaskan.
    3. Guru memberi petunjuk secara tertulis dan lisan.
    4. Bagi murid yang memiliki masalah pendengaran
      1. Menggunakan alat – alat visual seperti peta, slide atau gambar
      2. Merangkum materi pokok di setiap mata pelajaran
      3. Memberi rancangan tertulis pada setiap bahasan pembelajaran
      4. Membantu murid mengingat pelajaran dengan teknik mnemonik.
      5. Menggunakan tape recorder pada saat mengajar
      6. Bagi murid yang mengalami masalah visual ( pengelihatan ) dan motorik ( gerak )
        1. Menggunakan bahan – bahan bacaan
        2.  Memberi kesempatan murid merekam dari hasil penjelasan atau diskusi
        3.  Memberi tugas tertulis yang sederhana
        4.  Mencoba memberi tes lisan
        5. Memberi tes tulisan yang beragam, seperti menjodohkan, pilihan ganda atau isian singkat
        6. Memberi tuagas bervariasi melalui diagram, slide, tape rekorder atau lisan
        7. Memberi rancangan tertulis mengenai tugas yang diberikan

 

 

Cartwright juga mengemukakan rincian tentang cara menilai murid tuna cakap :

  • Menyusun ilustrasi dari pokok bahasan
  • Mempersiapkan glosari atau kata khusus setiap konsep yang diajarkan
  • Membuat kartun atau gambar yang membantu menjelaskan materi
  • Membuat rangkaian gambar yang berkesinambungan pada setiap sub pokok bahasan
  • Membuat majalah dinding
  • Menulis atau merekam berita yang berkaitan dengan materi belajar
  • Mewawancarai seseorang yang memahami topik – topik yang dipelajari
  • Mempelajari informasi baru atau jurnal yang sesuai materi belajar
  • Mempersiapkan proposal penelitian
  • Mempersiapkan slide, filmstrip, atau videotape

 

Terdapat dua dasat layanan bimbingan yang dapat dikembangkan secara terpadu dengan proses membantu murid tuna cakap belajar :

  1. Layanan remediasi :  berfokus pada upaya mengurangi atau menghilangkan kesulitan.

 

  1. Layanan kompensasi : mengembangkan komisi pembelajaran khusus luar kondisi yang normal atau baku yang memungkinkan murid memperoleh kemajuan. Hal ini hendaknya memperhatikan patokan berikut ;
  • Pastikan murid memiliki pengetahuan faktual
  • Batasi jumlah informasi baru
  • Sajikan informasi sejelas mungkin
  • Nyatakan informasi yang disampaikan  berkaitan dengan informasi yang dimiliki murid.
  • Jika telah mampu mengenal pada unit kecil, kenalkan pada unit yang lebih besar
  • Siapkan pengalaman ulang untung meningkatkan ingatannya
  • Lakukan latihan – latihan

 

Selanjutnya, Jerome Rosner ( 1993 ) mengemukakan petunjuk melakukan treatment sebagai berikut :

Pertama, mengidentivikasi kasus utama tentang ketunacakapan secara siknifikan yang mengganggu pokok belajar murid. Antara lain :

  1. Kemampuan – kemampuan perseptual dalam konsep coding ( dalam bentuk tulisan, bacaan, ejaan dan hitung )
  2. Bahasa yang brkaitan dengan upaya murid memperoleh informasi

Kedua, mengidentifikasi dan menilai kemampuan pokok belajar murid dalam perseptual atau bahasa.

Ketiga, memberi remidiasi terhadap kelemahan – kelemahan melalui proses  belajar.

 

Tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam mengambil keputusan melakukan treatment :

  • Kemungkinan kasus melibatkan kelemahan bahasa atau keterampilan prespektif
  • Usia murid
  • Tersedianya sumber – sumber emosi fisik, waktu dan energi

 

  1. Prevensi

Melakuan tes atau pemeriksaan terhadap aspek – aspek pribadi murid yaitu sebagai berikut :

  1. Kesehatan : memerlukan keterangan dari dokter anak
  2. Perkembangan : menyangkut aspek sosial, bahasa, motorik, dan tingkah laku adaptif
  3. Pengelihatan dan pendengaran : memeriksakan ke dokter ahli
  4. Keterampilan dan perseptual :  melalui tes psikolog tentang perseptual, pengelihatan dan pendengaran
  5. Usia pra sekolah : pemilihan secara hati – hati usia anak untuk menempuh jenjang pendidikan
  6. Usia masuk TK : banyak anak yang usia dibawah lima tahun tetapi menampilkan perkembangan yang lebih baik dalam perilaku sosial, bahasa, pemahaman, dan penyesuain diri. Tetapi masih relatif sedikit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s