Bagaimana cara guru mengajarkan IPS agar para siswa merasa senang dan memperoleh manfaat dengan mempelajari IPS?

Posted: November 2, 2012 in Pendidikan, Tugas Kuliah
Tag:

Oleh:

Rian Yoki Hermawan

Pendahuluan

Pendekatan konstruktivistik dapat digunakan oleh guru IPS dalam mengembangkan materi ajar di kelas. Selama ini pengajaran IPS di sekolah masih menggunakan pendekatan tradisional seperti ceramah, diskusi, dan lain-lain, serta lebih menekankan pada aspek-aspek kognitif dan mengabaikan keterampilan-keterampilan sosial. Konsekuensi dari metode tersebut adalah siswa merasa bosan terhadap materi pelajaran IPS dan dalam jangka panjang, tentu saja, akan terjadi penurunan kualitas pembelajaran itu sendiri.

Demikian juga dalam evaluasi, sering kali hanya dilakukan pada saat akhir kegiatan dan tidak pernah dilaksanakan dalam proses. Model portofolio masih jarang digunakan. Model ini merupakan salah satu alat yang efektif untuk menilai keberhasilan belajar siswa yang secara komprehensif merekam hampir semua aspek KBM. Dalam mengevaluasi keberhasilan belajar, guru IPS di sekolah masih sering menggunakan alat test objektif dan dihimpun dalam bentuk Lembar Kerja Siswa (LKS). Alat ini dalam beberapa hal tidak memuaskan siswa sebab siswa hanya diminta menghafal dan mengingat fakta-fakta dengan ranah kognitif yang rendah.

Dari uraian tadi kita akan membahas tentang hal yang harus diperhatikan oleh seorang tenaga pendidik yaitu guru sebelum melakukan kegiatan pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat mengkonstruksikan pengalaman siswa supaya dapat digunakan dalam pembelajaran IPS dan tidak mengguanakan metode ceramah saja. Agar  proses pembelajaran IPS tersebut menyenangkan, menantang tetapi juga bermakna bagi siswa. Mengubah suatu kebiasaan merupakan pekerjaan yang tidak mudah, demikian halnya dengan proses belajar mengajar yang sudah terbiasa menggunakan metode ceramah, tetapi hal tersebut bukan tidak mungkin untuk kita lakukan. Dalam hal ini interaksi antara guru dengan siswa sangat diperlukan.

ISI

Dalam pendekatan konstruktivistik proses belajar-mengajar dilakukan bersama-sama oleh guru dan peserta didik dengan produk kegiatan adalah membangun persepsi dan cara pandang siswa mengenai materi yang dipelajari, mengembangkan masalah baru, dan membangun konsep-konsep baru dengan menggunakan evaluasi yang dilakukan pada saat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berlangsung (on going evaluation). Dengan pengajaran ini, kualitas pengajaran dapat ditingkatkan, siswa dipandang sebagai individu yang mandiri yang memiliki potensi belajar dan pengembang ilmu. Apabila pendekatan itu digunakan maka guru IPS dapat memandang siswa sebagai rekan belajar dan pengembang ilmu sehingga akan tercipta hubungan yang kemitraan antara keduanya.

Dalam pandangan Brook and Brook (1999) pendekatan konstruktivistik mengharuskan guru-guru IPS untuk melakukan hal-hal berikut ini:

  • Pertama, mendorong dan menerima otonomi dan inisiatif siswa dalam mengembangkan materi pembelajaran. Menurut Brooks dan Brooks, kemandirian dan inisiatif itu akan mendorong siswa untuk menghubungkan gagasan dan konsep. Siswa yang berinisiatif untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan isu-isu mengenai materi pelajaran dan kemudian mencobanya untuk menjawab sendiri pertanyaan itu serta menganalisisnya menjadikan dia sebagai pemecah masalah serta – lebih penting lagi – sebagai penganalisisnya. Siswa seperti itu dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengembangkan materi pelajaran di dalam kelas yang melibatkan secara aktif semua peserta didik. Dalam pelajaran IPS pertanyaan-pertanyaan kritis dari siswa seperti: “mengapa terjadi banjir di perkotaan; mengapa banyak pelanggaran terhadap aturan dan norma dalam kehidupan masyarakat; mengapa keadaan cuaca di dataran tinggi terasa dingin dan di pantai terasa panas; dan lain-lain” merupakan pertanyaan kritis yang dapat dikembangkan dalam materi pelajaran IPS yang konstruktivistik
  • Kedua, menggunakan data mentah dan sumber utama (primary resources), untuk dikembangkan dan didiskusikan bersama-sama dengan siswa di kelas. Data-data atau angka-angka yang tercantum dalam monogram di kantor kelurahan atau kecamatan mengenai keadan penduduk misalnya merupakan data utama. Data tersebut dapat dikembangkan dalam proses pembelajran IPS yang konstruktivistik melalui diskusi di kelas dan untuk membangun kemampuan siswa dalam membuat prediksi, analisis, dan kesimpulan berdasarkan kemampuan individual.
  • Ketiga, memberikan tugas kepada siswa untuk mengembangkan klasifisikasi, analisis, melakukan prediksi terhadap peristiwa yang terjadi dalam kehidupans eharihari, dan menciptakan konsep-konsep baru. Menurut Brooks dan Brooks, sekali lagi, bahwa analisis, interpretasi, prediksi, dan sintesa itu merupakan kegiatan mental yang membutuhkan kemampuan menghubungkan ke dalam teks dan konteks dan kemudian membentuk pemahaman. Pelajaran IPS yang penuh dengan ceritera – baik yang disajikan dalam bentuk teks tertulis maupun lisan yang dibacakan oleh guru – merupakan materi yang baik untuk melatih kemampuan siswa dalam menganalisis, menginterpretasi, memprediksi, mensintesa, dan membuat kesimpulan. Kata-kata yang sering kita dengar dan kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Melalui ceritera yang dibacakan oleh guru di kelas, siswa-siswa dilatih untuk mengembangkan imajinasinya serta membuat prediksi terhadap apa yang akan terjadi kemudian. Pengalaman belajar siswa terhadap apa yang didengarnya itu merupakan modal bagi dia untuk melakukan prediksi dan kesimpulan terhadap apa yang telah dipelajarinya.
  • Keempat, bersifat fleksibel terhadap response dan interpretasi siswa dalam masalah-masalah sosial, bersedia mengubah strategi pembelajaran yang tergantung pada minat siswa, serta mengubah isi pelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Ketika seorang guru IPS menfasilitasi minat siswa terhadap materi tertentu yang actual tidak berarti guru tersebut meninggalkan rencana pelajaran dan kurikulum sepenuhnya. Dia masih tetap dapat mengembangkan materi pelajaran IPS seperti direncanakan dalam rencana pembelajaran. Sebagai contoh ketika guru akan menerangkan mengenai materi ketampakan lingkungan alam dan buatan di daerah dia masih bisa meneruskan materi  tersebut. Akan tetapi, ketika di lingkungan mereka terjadi banjir maka materi tentang ketampakan lingkungan alam dan buatan di daerah itu dijelaskan dalam konteks materi yagn direncanakan. Dengan mengembangkan konsep-konsep baru sesuai dengan konteks atau kejadian di lingkungan setempat sebenarnya guru telah bersifat fleksibel untuk menampung minat siswa pada masalah-masalah sehari-hari yang secara langsung dirasakan oleh para siswa.
  • Kelima, memfasilitasi siswa untuk memahami konsep sambil mengembangkannya melalui dialog dengan siswa. Dalam mengembangkan materi pengajaran IPS yang konstruktivistik, guru IPS harus mampu mengurangi “jawaban paling benar” terhadap pertanyaaan-pertanyaan siswa. Jawaban yang diberikan guru akan mendorong siswa untuk pasif dan tidak memberikan peluang bagi mereka untuk mengembangkan alternative jawaban terhadap pertanyaan atau isu yang muncul dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Model latihan soal dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sifatnya test objektif dan hanya menghendaki jawaban tunggal juga tidak akan bermanfaat bagi pengajaran kostruktivistik. Model latihan tersebut cenderung membelenggu kreativitas berpikir siswa. Oleh karena itu, materi yang sifatnya pemahaman dan interpretatif dalam pengajaran IPS adalah sangat bermanfaat untuk melatih siswa berpikir kritis. Dialog terhadap pertanyaan dan terhadap jawaban siswa merupakan salah satu esensi dari pengajaran konstruktivistik.
  • Keenam, mengembangkan dialog antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan rekan-rekannya. Salah satu cara terbaik bagi siswa untuk mengubah dan memperkuat konsepsinya adalah melalui wacana (discourse) sosial. Memiliki kesempatan untuk menyajikan gagasan seseorang, seperti halnya kesempatan untuk mendengar dan merefleksikan gagasan terhadap orang lain, adalah merupakan hal yang sangat berharga. Keuntungan mengembangkan wacana dengan orang lain, terutama dengan teman sebaya, dapat memfasilitasi proses pembentukan makna. Dalam pengajaran tradisional, sebagian siswa sering kali dijejali dengan perbedaan “baik” dan “buruk” serta “benar” dan “salah” dan semuanya disajikan secara hitam putih. Konsekuensi dari penyajian seperti itu adalah siswa hanya belajar mengenai jawaban singkat dan hanya berbicara mengenai gagasan baik dan jawaban yang benar yang  mungkin saja yang “baik” dan yang benar” tersebut adalah menurut standar guru. Penyajian seperti itu jelas tidak mendorong siswa untuk mengembangkan pemahaman mengenai materi pelajaran. Sebaliknya, dengan dialog antara masyarakat kelas (guru dan siswa) akan tercipta pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut hasil penelitian, pengalaman pembelajaran kooperatif (cooperative learning) telah mampu meningkatkan daya tarik interpersonal di antara siswa yang semula memiliki prasangka kurang baik, dan pengalaman tersebut telah meningkatkan interaksi antar kelompok (etnik atau status sosial), baik dalam pengajaran di kelas maupun dalam hubungan social di luar kelas.
  • Ketujuh, menghindari penggunaan alat test untuk mengukur keberhasilan siswa. Evaluasi bersifat on going, dilakukan secara komprehensif, dan pertanyaan yang bersifat terbuka akan mendorong siswa untuk saling bertanya satu sama lain. Seorang guru IPS yang konstruktivistik adalah yang berusaha untuk menghindari penggunaan alat test sebagai satu-satunya alat evaluasi untuk mengukur keberhasilan siswa. Jika seorang guru mengajukan pertanyaan dengan tujuan hanya memperoleh satu jawaban yang benar, bagaimana siswa dapat diharapkan mampu mengembangkan minat dan keterampilannya dalam menganalisis yang diperlukan untuk inquiry.
  • Kedelapan, mendorong siswa untuk membuat analisis dan elaborasi terhadap masalah-masalah kontroversial yang dihadapinya. Masalah-masalah controversial dalam pengajaran IPS seperti pentingnya mempertahankan hutan demi kelestarian alam serta pentingnya memanfaatkan hutan guna meningkatkan devisa (pendapatan) merupakan masalah menarik untuk didiskusikan. Apabila guru IPS memfasilitasi beragam pendapt mengenai isu kontroversial di atas maka dia telah mengembangkan pengajaran IPS yang konstruktivistik. Dalam pengajaran ini, siswa diajak untuk mengembangkan argumentasinya terhadap pilihan tentang mempertahankan hutan atau mengeksploitasi hutan. Dengan diberikannya kebebasan kepada mereka untuk mencari rujukan bacaan dan sumber lain maka guru telah memfasilitasi mereka keterampilanketerampilan berpikir, keterampilan menghargai pendapat orang lain serta suasana demokratis dalam kelas yang kelak berguna bagi kehidupannya di masyarakat. Perbedaan-perbedaan pendapat yang berkembang dalam kajian isu-isu controversial secara langsung dapat membangkitkan kemampuan berpikir peserta didik.
  • Kesembilan, memberi peluang kepada siswa untuk berpikir mengenai masalah yang dihadapi siswa. Konsepsi ini berkaitan dengan strategi bertanya yang sering dikembangkan oleh guru IPS. Ketika guru IPS mengajukan pertanyaan kepada siswa, sebaiknya siswa diberi waktu untuk memikirkan jawaban dan seterusnya setiap jawaban siswa itu dihargai oleh guru. Model jawaban cepat yang dituntut oleh guru IPS dari para siswa ketika mereka mengajukan pertanyaan kepada para peserta didiknya tidak cocok lagi dikembangkan dalam pengajaran konstruktivistik. Model cepat-tepat yang lebih banyak mengukur kemampuan kognitif para siswa harus dihindari oleh guru IPS di SD. Berikanlah waktu yang lebih banyak bagi siswa untuk mencari jawaban serta argumentasi mengenai pertanyaan atau masalah yang diajukan guru.
  • Kesepuluh, memberi peluang kepada siswa untuk membangun jaringan konsep serta membentuk metaphora. Guru IPS yang konstruktivistik mampu mengembangkan materi pelajaran melalui konsep-konsep yang saling berhubungan. Pengajaran konsep  sangat berguna untuk meningkatkan pemahaman secara menyeluruh terhadap materi pembelajaran IPS. Melalui konsep-konsep yang saling berhubungan itu dapat dikembangkan methapora pada diri siswa. Berdasasarkan uraian di atas, tentu saja mengevaluasi keberhasilan belajar tidak hanya berdasarkan pada hasil test. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh meliputi berbagai aspek yang ditampilkan siswa saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Salah satu model evaluasi yang dapat digunakan adalah portofolio. Portofolio pada dasarnya merupakan dokumen guru yang dikumpulkan mengenai semua penampilan siswa yang menyangkut kemampuan dan keterampilan pengetahuan, partisipasi dalam KBM, sikap terhadap pelajaran, kemampuan inquiry, kooperasi dengan teman-teman di kelas, ketepatan waktu dalam mengumpulkan tugas, hasil tugas, dan lain-lain. Dengan model ini guru IPS di SD dapat merekam semua aspek yang ditampilkan siswa sebagai hasil belajar. Berdasarkan semua rekaman tersebut, guru IPS dapat memberikan “kepuasan” kepada para siswa-siswanya dalam “memberikan” nilai.

Ketrampilan sosial perlu dikembangkan dalam pembelajran IPS di SD karena banyaknya masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh para peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan masyarakat mudah ditemukan masalah sosial seperti kerusuhan sosial (masyarakat mudah terkena rumor karena tidak mempunyai keterampilan dalam mengolah informasi); pelanggaran lalu lintas (masyarakat tidak mematuhi aturan serta rambu-rambu lalu  lintas); ketidakteraturan (orang tidak antri di tempat-tempat pelayanan umum); pencemaran lingkungan (orang membuang sampah / limbah sembarangan, merokok di tempat umum tertutup, toilet berfungsi sebagai tempat membuang sampah), konflik antar kelompok agama, etnis dan ras (masyarakat tidak memiliki keterampilan bekerjasama dan mereka memandang diri dan kelompoknya lebih penting dari golongan lain), konsumerisme (mengkonsumsi produk barang/ makanan melebihi kemampuan untuk memperolehnya), dan lain-lain. Masalah tersebut perlu dipecahkan antara lain dengan menyiapkan para peserta didik memiliki keterampilan sosial sebagai warga masyarakat. Keterampilan sosial dalam mengenal bahasa-bahasa simbol (antara lain ramburambu lalu lintas dan simbol-simbol yang dipahami masyarakat global), antri di tempattempat umum, membuang sampah pada tempatnya, berkomunikasi dengan baik dengan orang lain, bekerjasama dengan kelompok yang majemuk, menjadi konsumen yang selektif, membuat keputusan, menggunakan sarana dan fasilitas umum, berpartisipasi sebagai warganegara, mengakui kemajemukan, menggali, mengolah dan memanfaatkan informasi untuk peningkatan diri seringkali diabaikan oleh guru-guru IPS di sekolah. Sesuai dengan tuntutan kurikulum, mereka lebih sering mengejar hasil belajar daripada

proses dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut.

Ketrampilan sosial yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan siswa sehari-hari sebenarnya berhubungan dengan ketrampilan intelektual atau kemampuan kognitifnya. Oleh karena itu, sering kali tidak bisa dibedakan dengan jelas antara ketrampilan intelektual dengan ketrampilan sosial. Misalnya, ketika siswa melakukan antri di depan layanan umum tidak hanya dia trampil menghargai hak orang lain dan berbuat atau  bertindak tertib melainkan juga dia tahu bahwa bahwa hak orang lain itu harus dihargai  dan hidup tertib itu bagian dari ciri warganegara yang baik. Dalam kurikulum pendidikan IPS di beberqapa negara juga sering memasukkan berbagai jenis ketrampilan sosial yang di dalamnya terdaapt ketrampilan intelektual.

Keterampilan sosial dalam kehidupan sehari-hari juga mulai disadari oleh kalangan pendidik dan pengembang kurikulum di Indonesia. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22, 23 dan 24 tentang Standar Isi, Standar Kompetensi dan Standar Kompetensi Lulusan, misalnya, telah ada rumusan mengenai profil lulusan pendidikan sekolah umum yang antara lain memiliki keterampilan sosial dalam mengikuti perkembangan global. Secara umum, profil lulusan diharapkan memiliki kompetensi atau keterampilan dalam beberapa hal, antara lain 1) mampu mencari, memilah dan mengolah informasi dari berbagai sumber, 2) mampu mempelajari hal-hal baru untuk memecahkan masalah sehari-hari, 3) memiliki keterampilan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, 4) memahami, menghargai dan mampu bekerjasama dengan orang lain yang majemuk, 5) mampu mentransformasikan kemampuan akademik dan beradaptasi dengan perkembangan masyarakat, lingkungan dan perkembangan global serta aturan-aturan yang melingkupinya, serta keterampilan-keterampilan lainnya yang

relevan. Profil-profil tersebut harus dapat diterjemahkan oleh pengembang kurikulum di tingkat persekolahan, termasuk guru IPS SD di kelas, melalui proses belajar mengajar yang melibatkan secara aktif semua peserta didik sehingga keterampilan-keterampilan sosial dapat dilatihkan melalui KBM tersebut.

Penguasaan guru IPS di SD terhadap strategi pembelajaran konstruktivistik, inquiry dan pembelajaran kooperatif dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan Sosial tersebut adalah sama pentingnya dengan pemahaman mereka mengenai materi pembelajran IPS. Dengan demikian, guru-guru IPS di SD perlu diberi kesempatan lebih luas untuk memperoleh informasi yang tersedia begitu banyak di era global ini agar wawasan global mereka meningkat. Akses mereka terhadap sumber-sumber informasi tersebut perlu dibuka luas dengan cara memberdayakan mereka melalui berbagai kesempatan dan didukung dengan sistem reward yang memadai. Guru IPS perlu memiliki wawasan luas agar materi pelajaran yang dikembangkannya ditempatkan sebagai upaya menyiapkan para siswanya menjadi bagian dari masyarakat dunia yang cepat berubah dan mampu memenangkan persaingan atau berperan dalam berbagai kehidupan masyarakat.

Kesimpulan

Dengan demikian pembelajaran IPS yang menyenangkan dan bermanfaat dalam mempelajari IPS adalah dengan menggunakan model konstruktifistik.

dalam mengevaluasi keberhasilan belajar model konstruktivistik dalam pendidikan IPS di SD, proses belajar nampaknya lebih penting daripada hasil. Guru IPS yang melakukan evaluasi proses belajar yang konstruktivistik dan dengan menggunakan portofolio harus mampu mencatat kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang dikembangkan dalam KBM. Kemampuan-kemampuan dalam mengumpulkan informasi/data, mengolah informasi, memanfaatkan informasi untuk dirinya serta mengkomunikasikan hasil untuk berbagai keperluan harus dapat dikembangkan dan dievaluasi dalam pengajaran IPS yang bersifat konstruktivistik.

 

Daftar Pustaka

winataputra, udin. 2002. materi pembelajaran IPS sd. Jakarta. Universitas Terbuka

Handoyo, Budi dkk. 2004. Pendidikan IPS SD Terpadu. Malang. Geo Spektrum Press

artikel Bambang HP. Isu dan penentuan strategi pembelajaran IPS di sekolah.

Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP – UPI. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung. PT Imperial Bhakti Utama

http://portal2.lpmpkalsel.org/index.php?option=com_content&view=article&id=6:pipssd&catid=8:catipop&Itemid=7

Direktorat Tenaga Pendidik  Dirjen PMPTK Depdiknas. 2008. Strategi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengathuan Sosial. Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s