unsur keterbacaan dan unsur kesesuaian (tugas)

Posted: Oktober 15, 2012 in Pendidikan, Tugas Kuliah

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER

BAHASA INDONESIA

 

Oleh :

SANGGA PAWIYAT DIGA NOVENSA

( 080210204019 )

 

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JEMBER

DESEMBER, 2011


Ujian akhir Semester 2011 Bahasa Indonesia PGSD

Perhatian:

  1. Gunakan kalimat ilmiah, S- P – O, singkat, padat, dan bermakna
  2. Gunakan sumber yang relevan
  3. Kembalikan jawaban soal tepat waktu

Soal Ujian

  1. Observasilah murid SD yang sedang membaca buku teks bahasa Indonesia SD (kelas rendah/tinggi).

Pertanyaan

  1. Catatlah secara cermat perilaku siswa tersebut dalam membaca, belajar, dan menjawab soal dalam buku teks tersebut. Observasi dilakukan sebanyak dua kali peristiwa belajar!
  2. Tanyakan pada anak yang bersangkutan, apakah ia memahami apa yang dia baca? Bandingkan jawaban anak tersebut dengan hasil kerja menjawab pertanyaan pada buku tersebut!
  3. Rumuskan langkah-langkah memperbaiki pendidikan keilmuan bahasa Indonesia SD menurut konsep Saudara. Mengapa demikian?
  1. Bahan atau materi membaca di sekolah dasar (SD)  pada prinsipnya tercakup unsur keterbacaan dan unsur kesesuaian? Jelaskan apa yang dimaksud tersebut !
  1. Teknik dan strategi pembelajaran membaca biasanya guru menggunakan dan mengaplikasikan kegiatan prabaca, saatbaca, dan pascabaca dalam pembelajaran membaca pemahaman. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kegiatan tersebut?
  1. Baca buku/modul sesuai dengan tugas kelompok!
  2. Resumelah materi tersebut sesuai dengan alurnya!
  3. Atas dasar uraian tersebut rumuskan konsep tentang  “Komunitas pengguna bahasa Indonesia”. Apakah di masyarakat Indonesia tersebut sudah  terbentuk? Mengapa demikian?

Jawaban

1.  a.         Kegiatan observasi ini saya laksanakan di sekolah MI Al Mujahidi Desa Tembokrejo Kecamatan Gumukmas pada anak kelas VI. Siswa yang saya observasi bernama Mohammad Ikhsanudin. Kegiatan observasi dilakukan dua kali. Kegiatan pertama mengamati siswa selama proses membaca. Selama proses membaca ini, baik pada kegiatan observasi pertama maupun kedua, siswa ini kurang adanya pemahaman. Ini dikarenakan siswa yang tidak begitu serius dalam memahami bacaan dan cenderung untuk bermain. Apalagi jika kegiatan membaca tidak didampingi oleh guru.

Setelah kegiatan membaca, siswa mengerjakan soal-soal uraian dari bacaan tersebut. Dari jawaban siswa, didapat bahwa siswa kurang memahami isi bacaan yang telah dibaca. Ini dibuktikan dengan adanya jawaban siswa dari soal uraian tersebut banyak yang kurang benar dan tidak sesuai dengan pertanyaan.

b.  Kegiatan observasi selanjutnya yaitu memberikan pertanyaan secara lisan kepada siswa yang bersangkutan. Pertanyaan masih berkaitan dengan bacaan yang telah dibaca oleh siswa. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, ternyata siswa bisa lebih memahami soal-soal yang diberikan secara lisan meskipun berupa uraian. Namun dalam memberikan jawabannya, siswa perlu panduan. Ini untuk menggali lagi ingatan dan pemahaman siswa tentang bacaan yang telah dibaca.

c.  – Semua keterampilan berbahasa diambil dari kehidupan siswa sehari-hari.

Semua keterampilan berbahasa disesuaikan dengan usia siswa.

     Sebab jika disesuaikan dengan dunianya, siswa lebih mudah menyerap makna pembelajarannya.

 

2.      Unsur Keterbacaan

Keterbacaan (readability) adalah seluruh unsur yang ada dalam teks (termasuk di dalamnya interaksi antarteks) yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembaca dalam memahami materi yang dibacanya pada kecepatan membaca yang optimal (Dale & Chall dalam Gilliland, 1972). Mc Laughin (1980) menambahkan bahwa keterbacaan itu berkaitan dengan pemahaman pembaca karena bacaannya itu memiliki daya tarik tersendiri yang memungkinkan pembacanya terus tenggelam dalam bacaan.

Gilliland (1972) kemudian menyimpulkan keterbacaan itu berkaitan dengan tiga hal, yakni kemudahan, kemenarikan, dan keterpahaman. Kemudahan membaca berhubungan dengan bentuk tulisan, yakni tata huruf (topografi) seperti besar huruf dan lebar spasi. Kemudahan ini berkaitan dengan kecepatan pengenalan kata, tingkat kesalahan, jumlah fiksasi mata per detik, dan kejelasan tulisan (bentuk dan ukuran tulisan). Kemenarikan berhubungan dengan minat pembaca, kepadatan ide pada bacaan, dan keindahan gaya tulisan. Keterpahaman berhubungan dengan karakteristik kata dan kalimat, seperti panjang-pendeknya dan frekuensi penggunaan kata atau kalimat, bangun kalimat, dan susunan paragraf.

Dari berbagai definisi yang memberikan hakikat keterbacaan (readability) dapat disimpulkan bahwa keterbacaan itu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemudahan atau kesulitan memahami suatu bacaan. Keterbacaan berkaitan dengan keadaan tulisan atau cetakan yang jelas, mudah, menarik, dan menyenangkan untuk dibaca sehingga pesan yang disampaikan penulis benar-benar sampai secara tepat kepada pembaca. Jadi dalam pemilihan bahan ajar atau materi di Sekolah Dasar (SD) harus berpacu pada prinsip keterbacaan ini, agar siswa lebih mudah dalam memahami isi bacaan serta tertarik untuk membacanya.

 

Unsur Kesesuaian

Artinya adalah bahan ajar dan materi bacaan yang digunakan di Sekolah Dasar (SD) harislah sesuai dengan tingkat kemampuan siswa pada tingkat pengajaran tertentu. Kemampuan siswa berkembang sesuai dengan tahapan perkembangan jiwanya. Oleh karena itu, bahan ajar dan materi bacaan  SD  yang disajikan hendaknya  diklasifikasikan berdasarkan derajat kesulitannya di samping kriteria-kriteria lainnya. Tanpa adanya kesesuaian antara siswa dengan bahan yang diajarkan, pelajaran yang disampaikan  akan gagal.

3.      Untuk meningkatkan pemahaman terhadap keseluruhan teks, biasanya guru menerapkan kegiatan prabaca, kegiatan inti membaca, dan kegiatan pascabaca dalam pembelajaran membaca. Kegiatan prabaca dimaksudkan untuk menggugah prilaku siswa dalam penyelesaian masalah dan memotivasi penelaahan materi bacaan.

1)        Gambaran awal cerita, yang berisi informasi yang berkaitan dengan isi cerita, dapat meningkatkan pemahaman. Pemberian gambaran awal cerita kepada siswa yang dirancang sebagian untuk membangun latar belakang pengetahuan tentang cerita tersebut dapat membantu siswa menyimpulkan isi bacaan.

2)        Petunjuk untuk melakukan antisipasi, merupakan sarana kegiatan awal membaca yang bermanfaat. Petunjuk semacam ini dirancang untuk menstimulus pikiran, berisi pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang akan dibaca.

3)        Pemetaan semantik, merupakan strateg prabaca yang baik, sebab kegiatannya memperkenalkan kosa kata yang akan ditemukan dalam bacaan dan dapat  menggugah skemata yang berkaitan dengan topik bacaan.

4)        Menulis sebelum membaca, menulis pengalaman pribadi yang relevan, sebelum mereka membaca materi, bermanfaat pada kegiatan mengerjakan tugas, dan reaksi yang lebih positif.

5)        Drama/simulasi, dapat digunakan sebelum cerita dibaca untuk meningkatkan pemahaman.

Kegiatan saatbaca

Beberapa strategi dan kegiatan dalam membaca dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa. Strategi yang dimaksud adalah strategi metakognitif, cloze procedure, dan pertanyaan pemandu.

1)      Strategi metakognitif, berkaitan dengan pengetahuan seseorang atas penggunaan intelektual otaknya dan usaha sadarnya dalam memonitor atau mengontrol penggunaan kemampuan intelektualnya. Metakognitif ini meliputi cara terjadinya berpikir . Dalam kegiatan membaca, orang yang menerapkan metakognitif akan memilih keterampilan dan teknik membaca yang sesuai dengan tugas membacanya.

2)      Cloze procedure, digunakan juga untuk meningkatkan pemahaman dengan cara menghilangkan sejumlah informasi dalam bacaan dan siswa diminta untuk mengisinya. Latihan cloze procedure dalam pelaksanaannya melibatkan penghilangan huruf, suku kata, kata, frase, klausa, atau sebuah kalimat.

3)      Pertanyaan pemandu, selama membaca pertanyaan pemandu sering digunakan untuk meningkatkan pemahaman. Siswa dilatih untuk mengingat fakta dengan cara mengubah fakta itu menjadi pertanyaan ”mengapa”. Pertanyaan pemandu dapat diajukan guru kepada siswa atau diajukan siswa untuk dirinya sendiri ketika sedang membaca.

Kegiatan pascabaca

Kegiatan dan strategi setelah membaca membantu siswa mengintegrasikan informasi baru ke dalam skemata yang sudah ada. Selain itu, kegiatan pascabaca dapat memperkuat dan mengembangkan hasil belajar yang telah diperoleh sebelumnya.

Ada beberapa kegiatan dan strategi yang dapat dilakukan siswa setelah membaca, yaitu, memperluas kesempatan belajar, mengajukan pertanyaan, mengadakan pameran visual, melaksanakan pementasan teater aktual, menuturkan kembali apa yang telah dibaca kepada orang lain, dan mengaplikasikan apa yang diperoleh dari membaca ketika melakukan sesuatu.

4.      a. Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

A.    Hakikat Pendekatan  Komunikatif

Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang betujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran empat keterampilan berbahasa, mengakui dan menghargai saling ketergantungan bahasa.

1.                Ciri-ciri utama pendekatan komunikatif

Ciri utamanya adalah adanya dua kegiatan yang saling berkaitan erat, yakni adanya kegiatan-kegiatan komunikasi fungsional dan kegiatan yang sifatnya interaksi sosial. Kegiatan komunikasi fungsional terdiri dari mengolah informasi, berbagi dan mengolah informasi, berbagi informasi dengan kerja sama terbatas, dan berbagi infomasi dengan kerjasama tak terbatas. Sedangkan kegiatan interaksi sosial terdiri dari improfisasi, lakon-lakon pendek yang lucu, aneka simulasi, dialog bermain peran, sidang-sidang konversasi dan diskusi, serta berdebat. Telah Ciri-ciri tersebut jelas diperlihatkan beberapa perbedaan pokok antara pendekatan komunikatif dengan pendekatan yang dilakukan secara tradisional.

2.    Aspek-aspek yang berkaitn erat dengan Pendekatan Komunikatif

No Aspek yang Berkaitan Pendekatan Komunikatif
1 Teori Bahasa Pada hakikatnya bahasa adalah suatu sistem untuk mengepresikan makna, yang menekankan pada dimensi simentik dan komunikatif daripada ciri-ciri gramatikal bahasa. Oleh karena itu, yang perlu ditonjolkan adalah interaksi dan komunikasi bahasa.
2 Teori Belajar Teori yang cocok adalah teori pemerolehan bahasa kedua secara ilmiah.
3 Tujuan Tujuan umum pembelajaran bahasa adalah mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompetensi dan permonfansi komunikatif).
4 Silabus Silabus harus disusun searah dengan tujuan pembelajaran dan tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi-materi yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan siswa.
5 Tipe Kegiatan Pembelajar dipajankan pada situasi komunikasi yang nyata, seperti tukar menukar informasi, negosiasi makna atau kegiatan lain yang sifatnya riil.
6 Peranan Guru Guru berperan sebagai fasilitator komunikasi, partisipan tugas dan teks, penganalisis kebutuhan, konselor, dan manajer proses belajar.
7 Peranan Siswa Pembelajar berperan sebagai pemberi dan penerima, negosiator, dan interaktor sehingga siswa tidak hanya menguasai bentuk-bentuk bahasa, tetapi juga bentuk dan juga maknanya.
8 Peranan Materi Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi nyata.

 

3.    Penerapan Pendekatan komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa

Belajar bahasa Indonesia pada intinya adalah belajar berkomunikasi. Artinya, dalam proses pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya adalah hal yang sangat esensial dalam sebuah proses pembelajaran.

Pendekatan adalah seperangkat asumsi yang saling berkaitan. Hakikat bahasa, pembelajaran bahasa bersifat aksiomatis, artinya kebenaran konsep teoritis yang digunakan sebagai asumsi-asumsi.

Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Komunikatf

Tujuan Pembelajarnya adalah membentuk kemampuan komunukatif siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia yang mencangkup empat keterampilan, baik menyimak, membaca, menulis maupun berbicara.

Kemampuan komunikatif memiliki beberapa karakteristik, yakni :

Canale dan Swain mengemukakan empat unsur yang berkaitan dengan kemampuan komunikasi, yakni (1) kemampuan gramatika, (2) kemampuan sosiolinguistik, (3) kemampuan wacana.

Garis-Garis Besar Program Pengajaran(GBPP)

GBPP dalam bahasa Indonesia adalah bagian dari kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia. Kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran bahasa Indonesia serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia.

B.     PROSEDUR PENGGUNAAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI,2001:742) dijelaskan bahwa prosedur merupakan tahap-tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas, sedangkan strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.

Tujuan umum pembelajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif adalah mempersiapkan pembelajaran untuk melakukan interaksi yang bermakna dengan cara mengiikhtiarkan pembelajaran untuk mampu memahami dan menggunakan bahasa secara alamiah.

C.                STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERDASARKAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF

1.        Tujuan

Tujuan pembelajaran bahasa menurut pendekatan komunikatif adalah mengembangkan kompetensi komunikatif para pembelajar bahasa yang mencakup kemampuan menafsirkan bentuk-bentuk linguistik, baik yang dinyatakan secara eksplisit, maupun yang dinyatakan secara eksplisit.

Widdowson (dalam Solchan, 2001:6.39) mengemukakan bahwa analisis keterampilan berbahasa atas keempat keterampilan berbahasa tersebut tidak dapat menggambarkan kompetensi komunikatif dengan jelas sehingga menimbulkan salah tafsir. Widdowson menggolongkan keterampilan bahasa atas tiga kriteria, yakni medium, modus, dan cara.

2.        Materi

Materi yang digunakan dipilih dan diurutkan berdasarkan tingkat kerumitan dan kesulitannya. Butir bahasa yang mudah didahulukan dan yang sulit disimpan di akhir program.

Menurut Tarigan (dalam Solcham, dkk. 2001:6.42) ada tiga jenis materi yang dipakai dalam pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif, yakni : materi yang berdasarkan teks, materi berdasarkan tugas, dan materi berdasarkan realita.

Selain itu ada beberapa prinsip yang harus kita ketahui, seperti :

(a)           Materi harus menunjang tujuan yang dirumuskan dalam kurikulum.

(b)          Materi harus autentik.

(c)           Materi harus mampu menstimulasi terjadinya interaksi antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa.

(d)          Materi memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan bentuk-bentuk bahasa.

(e)           Materi harus mampu mendorong siswa mengembangkan keterampilan belajar yang lain.

(f)           Materi harus mampu mendorong pembelajar menerapkan keterampilan bebahasa.

3.        Metode

Metode yang paling relevan adalah metode komunikatif itu sendiri. Padahal kita tahu dalam metode pembelajaran bahasa kita mengenal metode bahasa terjemahan, metode langsung, dan metode audiolingual.

4.        Teknik

Ada empat teknik pembelajaran yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa yang disarikan dari Tarigan yang dikutip Solchan, dkk. (2001:6.46)

1)   Teknik Pembelajaran Menyimak.

2)   Teknik Pembelajaran Berbicara.

3)   Teknik Pembelajaran Membaca.

4)   Teknik Pembelajaran Menulis.

5.        Media

Jenis dan macamnya sangat beraneka ragam. Jelasnya, apapun media yang digunakan pemilihannya harus berdasar pada tuntutan pembelajaran yang ingin dicapai.

6.        Evaluasi

Tes yang cocok yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif hanya tes integrative dan tes pragmatik.

Pendekatan Keterampilan Proses dalam pembelajaran Bahasa Indonesia

A.      Hakikat Pendekatan Keterampilan Proses.

Pendekatan keterampilan proses adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang fokus pada keterlibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam pemerolehan hasil belajar. Kondisi yang seperti ini sangat penting dalam pembelajaran pendekatan ini sangat cocok digunakan dalam pembelajaran bahasa indonesia karena akan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya, sedalam-dalamnya dan semahir-mahirnya, pada para siswa untuk berlatih menggunakan kemampuan dalam keterampilan bahasa dalam berbagai fungsi komunikasi.

 B.       Prinsip-prinsip keterampilan Proses.

Pendekatan keterampilan proses lebih memfokuskan pada kegiatan belajar mengajar pada proses pemerolehan hasil belajar atau pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri. Pendekatan ini juga menumbuhkan kemampuan untuk memperoleh pengetahuan,  pengalaman dan kemampuan yang meliputi:

  1. Kemampuan mengamati. Merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam kehidupan sehari–hari maupun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
  2. Kemampuan menghitung. Merupakan kemampuan menghitung dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Kemampuan mengukur. Kemampuan untuk membandingkan dan menilai dengan menggunakan kriteria tertentu.
  4. Kemampuan mengklasifikasi. Adalah kemampuan untuk mengelompokkan/menggolongkan sesuatu yang berupa benda, fakta, informasi dan gagasan.
  5. Kemampuan menemukan Hubungan. Diwujudkan dalam kemampuan siswa menemukan hubungan antara fakta yang terdapat dalam bacaan untuk membangun pemahaman kritis dan kreatif terhadap bacaan.
  6. Kemampuan membuat prediksi. Kemampuan ini didasarkan penalaran baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
  7. Kemampuan melaksanakan penelitian. Merupakan kemampuan siswa untuk melakukan pengamatan, observasi dan melaporkan hasil pengamatannya.
  8. Kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data. Dalam kemampuan ini siswa dilatih untuk mengumpulkan data dalam pengamatan lapangan, kemudian menganalisis data tersebut dan membuat kesimpulan.
  9. Kemampuan mengkomunikasikan hasil. Kemampuan untuk menyusun laporan hasil pengamatannya kemudian mempresentasikannya di depan kelas dalam sebuah kegiatan diskusi.

C.      Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Pendekatan Keterampilan Proses.

Strategi merupakan dasar, asas, kebenaran yang merupakan pokok dasar berpikir dan bertindak. Dua komponen yang berkaitan dengan pendekatan keterampilan proses adalah:

Pengorganisasian Kelas

Merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan guru dalam mengatur kelas agar tercipta yang memungkinkan siswa belajar dengan baik. Pengorganisasian kelas meliputi pengelolaan kelas secara fisik dan non fisik. Secara fisik terdiri dari pengaturan ruangan, tempat duduk, papan tulis dan lain-lain yang berkaitan dengan sarana dan prasarana yang ada di dalam kelas, sedangkan non fisik berkaitan dengan kondisi sosio emosional (aman, gembira, semangat dan bergairah) siswa untuk belajar. Cara menciptakan kondisi yang baik adalah penciptaan komunikasi yang multiarah, pengelolaan jam pelajaran dan pengelompokan siswa.

Metode dan teknik belajar mengajar

Metode pembelajaran bahasa adalah sistem perencanaan pembelajaran bahasa indonesia secara menyeluruh untuk memilih, mengorganisasikan dan menyajikan materi bahasa indonesia secara teratur. Metode bersifat prosedural. Faktor yang berpengaruh terhadap metode pembelajaran bahasa adalah

a)      Persamaan dan perbedaan sistem bahasa pertama siswa dengan bahasa kedua yang dipelajari,

b)      Usia saat belajar bahasa,

c)      Latar belakang social budaya siswa,

d)     Pengalaman, pengetahuan dan keterampilan berbahasa siswa,

e)      Pengetahuan dan keterampilan berbahasa guru,

f)       Kedudukan dan fungsi bahasa yang dipelajari siswa dalam masyarakat,

g)      Tujuan pembelajaran yang diinginkan,

h)      Alokasi waktu yang tersedia,

i)        Sedangkan untuk teknik, secara garis besar yang banyak digunakan adalah

  • Ceramah
  • Diskusi kelas dan kelompok
  • Penugasan

PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SEKOLAH DASAR

Pendekatan merupakan dasar teoretis untuk suatu metode. Penggunaan pendekatan dalam pengajaran bahasa menyikapi:

  1. cara pandang seseorang dalam menyikapi bahasa sebagai materi pelajaran,
  2. isi pembelajaran,
  3. teknik dan proses pembelajaran, serta
  4. perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran.

Beberapa metode dalam pembelajaran bahasa Indonesia SD

Pendekatan tujuan

Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar-mengajar yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai

Pendekatan struktural

Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai kaidah.

Pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran bahasa

Keterampilan proses berfungsi sebagai alat menemukan dan mengembangkan konsep.

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam keterampilan prosesnya, dalam bahasa Indonesia memiliki penjabaran sebagai berikut

1. Mengamati

2. Menggolongkan

3. Menafsirkan

4. Menerapkan

5. Mengkomunikasikan

Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa, Secara umum whole language dapat dinyatakan sebagai perangkat wawasan yang mengarahkan kerangka pikir praktisi dalam menentukan bahasa sebagai meteri pelajaran, isi pembelajaran, dan proses pembelajaran.

Komponen-komponen whole language:

  1. Reading Aloud

Reading Aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru dan siswa. Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam buku teks atau buku cerita lainnya dan membacakannya dengan suara keras dan intonasi yang benar sehingga setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati ceritanya

  1. Sustained Silent Reading

Sustained Silent Reading (SSR) adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan ini kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibacanya

  1. Journal Writing

Salah satu cara yang dipandang cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan siswa menulis adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran menulis jurnal atau menulis informal. Melalui menulis jurnal, siswa dilatih untuk lancar mencurahkan gagasan dan menceritakan kejadian di sekitarnya tanpa sekaligus memikirkan hal-hal yang bersifat mekanik

  1. Shared Reading

Komponen whole language yang keempat adalah shared reading. Shared reading ini adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa dan mereka harus mempunyai buku untuk dibaca bersama.

  1. Guided Reading

dalam guided reading atau disebut juga membaca terbimbing guru menjadi pengamat dan fasilator

  1. Guided Writing

Komponen whole language yang keenam adalah guided writing atau menulis terbimbing seperti dalam membaca terbimbing

  1. Independent Reading

Komponen whole language yang ketujuh adalah independent reading. In-dependent reading atau membaca bebas adalah kegiatan membacayang memberi kesempatan kepada siswa untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya

  1. Independent Writing

Independent writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan kemam-puan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Ciri-ciri Kelas Whole Language

  1. Kelas penuh dengan barang cetakan.
  2. Guru berperan sebagai model
  3. Siswa bekerja dan belajara sesuai dengan tingkat kemampuannya
  4. Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran
  5. Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna
  6. Siswa berani mengambil resiko bebas bereksperimen
  7. Siswa mendapatkan balikan psitif dari guru mapun temannya

Penialaian dalam whole language guru menggunaan portfolio, dan guru juga menggunakan penilaian pengamatan sebagai penilaian informal.

 

b. Menurut saya hal tersebut sudah mulai terbentuk, terbukti dengan adanya barang cetakan sebagai contoh dari kelas whole language dan juga kebiasaan pembelajaran yang menuntut siswa menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s