KESULITAN BELAJAR

Posted: Januari 25, 2012 in Pendidikan

KESULITAN BELAJAR

Mata Kuliah

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

 

Oleh:

Siti Aisyah P.S.                080210204035

Novia Anindiasari        080210204002

Halimatus Sa’diyah     080210204025

Emillia Erwina              080210204017

Widya Rachmawati     080210204016

Fajar Heri Mahbudi     080210204046

Sangga Pawiyat D.N.   080210204019

Aris Widya P.                   100210204163

 

S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JEMBER

2010/2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah 
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Gangguan kesulitan belajar (learning disabilities/ LD) merupakan salah satu permasalahan yang banyak ditemui dalam dunia pendidikan. LD menyangkut ketidak mampuan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas akademiknya secara tepat. LD adalah kondisi yang dialami siswa berkait dengan adanya hambatan, keterlambatan dan ketertinggalan dalam kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Siswa yang berkesulitan belajar adalah siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga presatsi belajarnya rendah dan anak beresiko tinggi tinggal kelas (Yusuf, M, 2003).
Siswa yang mengalami gangguan kesulitan belajar memperlihatkan permasalahan signifikan dalam beberapa aspek belajar, yaitu membaca, menulis dan berhitung meskipun taraf intelegensinya tergolong rata-rata atau diatas rata-rata (Lerner, 2001). Gangguan kesulitan belajar mengakibatkan rendahnya prestasi akademik.
1.2. Rumusan masalah 
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apa pengertian dari kesulitan belajar?
2. Bagaimana klasifikasi kesulitan belajar?
3. Bagaimana karakteristik dari anak yang mengalami kesulitan belajar?
4. Apa saja faktor penyebab terjadinya kesulitan belajar?
5. Bagaimana penanganan dan strategi yang diterapkan untuk mengatasi adanya kesulita belajar?
1.3. Tujuan penulisan makalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari kesulitan belajar
2. Untuk mengetahui klasifikasi kesulitan belajar
3. Untuk mengetahui karakteristik dari anak yang mengalami kesulitan belajar
4. Untuk mengetahui apa saja faktor penyebab terjadinya kesulitan belajar
5. Untuk mengetahui bagaimana penanganan dan strategi yang diterapkan untuk mengatasi adanya kesulita belajar?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan pandangan Clement tersebut maka pengertian kesulitan belajar adalah kondisi yang merupakan sindrom multidimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan belajar spesifik (spesific learning disabilities), hiperaktivitas dan/atau distraktibilitas dan masalah emosional. Kelompok anak dengan Learning Dissability (LD) dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figure, visual-motor, visual-perceptual, pendengaran, intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, body image, dan konsep diri.
Tidak seperti cacat fisik, kesulitan belajar tidak terlihat dengan jelas dan sering disebut ”hidden handicap”. Terkadang kesulitan ini tidak disadari oleh orangtua dan guru, akibatnya anak yang mengalami kesulitan belajar sering diidentifikasi sebagai anak yang underachiever, pemalas, atau aneh. Anak-anak ini mungkin mengalami perasaan frustrasi, marah, depresi, cemas, dan merasa tidak diperlukan (Harwell, 2001).
Definisi kesulitan belajar yang dimuat dalam Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) tahun 1997. Didalamnya disebutkan bahwa “spesific learning disabilities” berarti suatu gangguan dalam satu atau lebih proses – proses psikologis dasar yang terlibat dalam pemahaman atau penggunaan bahasa lisan atau tertulis, yang dimanifestasikan dalam kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengar, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau melakukan perhitungan matematis (Lerner, 2003). Definisi tersebut tidak dapat diaplikasikan pada anak-anak yang memiliki permasalahan belajar terutama yang disebabkan oleh ketidakmampuan penglihatan, pendengaran, atau ketidakmampuan motorik, atau retradasi mental, atau gangguan emosional, atau oleh keadaan lingkungan, kultural atau ekonomi yang merugikan (Graziano, 2002; Lerner, 2003).
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
• Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
• Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
• Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
• Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
• Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
B. Klasifikasi
1. Berdasarkan Jenis Kelainannya
Jenis jenis Kesulitan Belajar ( LD ):
 Gangguan membaca (Disleksia)
 Gangguan matematik (Diskalkulia)
 Gangguan menulis ekspresif (Spelling Dyslexia, Spelling Disorder)
 Gangguan belajar lainnya / tidak spesifik
a. Gangguan Membaca (Disleksia):
Adalah ketrampilan membaca yang berada di bawah tingkatan usia, pendidikan dan inteligensi anak. Ciri khasnya: gagal dalam mengenali kata-kata, lambat & tidak teliti bila membaca, pemahaman yang buruk.
Gejala dari kesulitan membaca ini adalah kemampuan membaca anak berada di bawah kemampuan yang seharusnya dengan mempertimbangkan tingkat inteligensi, usia dan pendidikannya. Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti karena ada masalah dengan penglihatan, tapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Kesulitan ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu. Ada pun ciri-ciri anak yang mangalami disleksia adalah:
  • Tidak dapat mengucapkan irama kata-kata secara benar dan proporsional.
  • Kesulitan dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata.
  • Sulit menyuarakan fonem (satuan bunyi) dan memadukannya menjadi sebuah kata.
  • Sulit mengeja secara benar. Bahkan mungkin anak akan mengeja satu kata dengan mbermacam ucapan.
  • Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan bentuk seperti b & d, u & n, m & n.
  • Membaca satu kata dengan benar di satu halaman, tapi salah di halaman lainnya.
  • Kesulitan dalam memahami apa yang dibaca.
  • Sering terbalik dalam menuliskan atau mengucapkan kata. Misal, “hal” menjadi “lah”, atau “kucing duduk di atas kursi” menjadi “kursi duduk di atas kucing”
  • Rancu dengan kata-kata yang singkat, misalnya ke, dari, dan, jadi.
  • Bingung menentukan tangan mana yang dipakai untuk menulis.
  • Lupa mencantunkan huruf besar atau mencantumkannya di tempat yang salah.
  • Lupa meletakkan titik dan tanda-tanda baca lainnya.
  • Menulis huruf dan angka dengan hasil yang kurang baik.
  • Terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata. Tulisannya tidak stabil, kadang naik, kadang turun.
  • Menempatkan paragraf secara keliru.
Walau pun mengalami kesulitan-kesulitan tersebut di atas, anak yang mengalami gangguan disleksia sebetulnya mempunyai kelebihan. Mereka biasanya sangat baik di bidang musik, seni, grafis dan aktivitas-aktivitas kreatif lainnya. Cara mereka berpikir adalah dengan gambar, tidak dengan huruf, angka, simbol atau kalimat. Mereka juga baik dalam menghafal dan mengingat informasi. Kesulitan mereka adalah bagaimana menyatukan informasi-informasi yang ada dan mengolah informasi tersebut.
b. Gangguan Matematik (diskalkulia)
Adalah ketrampilan matematik yang berada di bawah tingkatan usia, pendidikan dan inteligensi anak. Ciri khasnya adalah kegagalan dalam ketrampilan :
 linguistik (memahami istilah matematika, mengubah soal tulisan ke simbol matematika),
 perseptual (kemampuan untuk memahami simbol dan mengurutkan kelompok angka)
 matematik (+/-/x/: dan cara mengoperasikannya)
 atensional (mengkopi bentuk dengan benar, mengoperasikan simbol dengan benar)
Berdasarkan hasil temuan dilapangan, perilaku-perilaku yang ditunjukkan subyek penelitian sebagai karakteristik LD diskalkulia adalah: Kekurangan pemahaman tentang (1) simbol, (2) nilai tempat, (3) perhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, (5) tulisan yang tidak terbaca.
 c. Gangguan Menulis (Disgraphia)
Adalah ketrampilan menulis yang berada di bawah tingkatan usia, pendidikan dan inteligensi anak.Banyak  ditemukan kesalahan dalam menulis dan penarnpilan tulisan yang buruk (cakar ayam)
Berdasarkan temuan di lapangan, perilaku-perilaku subyek penelitian yang mengindikasikan karakteristik LD disgrafia adalah sebagai berikut :
a. Menulis dengan buruk (tiadanya jarak antar kalimat dan jarak tiap kata/huruf, bentuk huruf, kemiringan huruf, tekanan pada kertas serta cara memegang pensil),
b. Mengalami kesulitan mengeja (pengurangan huruf, mencerminkan dialek, pembalikan huruf dalam kata, pembalikan konsonan atau vokal, pembalikan suku kata, penambahan huruf),
c. Menunjukkan kesalahan memenggal suku kata,
d. Kurang memperhatikan huruf besar dan kecil serta tanda baca
Bentuk-bentuk disgrafia diantara dapat dilihat pada gambar. berikut ini :
 2. Berdasarkan kapan waktu terjadinya
2.1. Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan
(developmental learning disabilities)
Mencakup gangguan motorik dan persepsi kesulitan belajar bahasa dan komunikasi dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial.
2.2. Kesulitan belajar akademis (akademic learning disabilities)
Menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis atau matematika.
C. Karakteristik
Karakteristik kesulitan belajar khusus digolongkan menjadi:
a. Fisik
Secara fisik anak yang mengalami kesulitan belajar tidak mengalami kelainan fisik yang menonjol.
b. Kecerdasan
Dari aspek kecerdasannya, anak yang mengalami kesulitan belajar terbagi menjadi dua golongan:
 Anak yang memiliki tingkat potensi intelektual (kecerdasan) diatas normal / rata-tata
 Anak yang memiliki tingkat potensi intelektual (kecerdasan) dibawah normal / rata-tata
c. Sosial
Penyesuaian sosial kurang memadai karena anak tersebut dianggap sosok anak yang malas dan aneh.
d. Akademis
Anak yang mengalami kesulitan belajar akademis prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau bahkan sangat rendah.
D. Faktor Penyebab
Ada beberapa penyebab kesulitan belajar yang terdapat pada literatur dan hasil riset (Harwell, 2001), yaitu:
1. Faktor keturunan/bawaan
2. Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau prematur
3. Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu yang merokok, menggunakan obat-obatan (drugs), atau meminum alkohol selama masa kehamilan.
4. Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam.
5. infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah.
6. Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya.
Riset menunjukkan bahwa apa yang terjadi selama tahun-tahun awal kelahiran sampai umur 4 tahun adalah masa-masa kritis yang penting terhadap pembelajaran ke depannya. Stimulasi pada masa bayi dan kondisi budaya juga mempengaruhi belajar anak.  Pada masa awal kelahiran samapi usia 3 tahun misalnya, anak mempelajari bahasa dengan cara mendengar lagu, berbicara kepadanya, atau membacakannya cerita. Pada beberpa kondisi, interaksi ini kurang dilakuan, yang bisa saja berkontribusi terhadap kurangnya kemampuan fonologi anak yang dapat membuat anak sulit membaca (Harwell, 2001)
Sementara Kirk & Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:
1. Faktor Disfungsi Otak
Penelitian mengenai disfungsi otak dimulai oleh Alfred Strauss di Amerika Serikat pada akhir tahun 1930-an, yang menjelaskan hubungan kerusakan otak dengan bahasa, hiperaktivitas dan kerusakan perceptual. Penelitian berlanjut ke area neuropsychology yang menekankan adanya perbedaan pada hemisfer otak. Menurut Wittrock dan Gordon, hemisfer kiri otak berhubungan dengan kemampuan sequential linguistic atau kemampuan verbal; hemisfer kanan otak berhubungan dengan tugas-tugas yang berhubungan dengan auditori termasuk melodi, suara yang tidak berarti, tugas visual-spasial dan aktivitas non verbal. Temuan Harness, Epstein, dan Gordon mendukung penemuan sebelumnya bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar (learning difficulty) menampilkan kinerja yang lebih baik daripada kelompoknya ketika kegiatan yang mereka lakukan berhubungan dengan otak kanan, dan buruk ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan otak kiri. Gaddes mengatakan bahwa 15% dari anak yang termasuk underachiever, memiliki disfungsi system syaraf pusat (dalam Kirk & Ghallager, 1986).
2. Faktor Genetik
Hallgren melakukan penelitian di Swedia dan menemukan bahwa, yang faktor herediter menentukan ketidakmampuan dalam membaca, menulis dan mengeja diantara orang-orang yang didiagnosa disleksia. Penelitian lain dilakukan oleh Hermann (dalam Kirk & Ghallager, 1986) yang meneliti disleksia pada kembar identik dan kembar tidak identik  yang menemukan bahwa frekwensi disleksia pada kembar identik lebih banyak daripada kembar tidak identik sehingga ia menyimpulkan bahwa ketidakmampuan membaca, mengeja dan menulis adalah sesuatu yang diturunkan.
3. Faktor Lingkungan dan Malnutrisi
Kurangnya stimulasi dari lingkungan dan malnutrisi yang terjadi di usia awal kehidupan merupakan dua hal yang saling berkaitan yang dapat menyebabkan munculnya kesulitan belajar pada anak. Cruickshank dan Hallahan (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa meskipun tidak ada hubungan yang jelas antara malnutrisi dan kesulitan belajar, malnutrisi berat pada usia awal akan mempengaruhi sistem syaraf pusat dan kemampuan belajar serta berkembang anak.
4. Faktor Biokimia
Pengaruh penggunaan obat atau bahan kimia lain terhadap kesulitan belajar masih menjadi kontroversi. Penelitian yang dilakukan oleh Adelman dan Comfers (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa obat stimulan dalam jangka pendek dapat mengurangi hiperaktivitas. Namun beberapa tahun kemudian penelitian Levy (dalam Kirk & Ghallager, 1986) membuktikan hal yang sebaliknya. Penemuan kontroversial oleh Feingold menyebutkan bahwa alergi, perasa dan pewarna buatan hiperkinesis pada anak yang kemudian akan menyebabkan kesulitan belajar. Ia lalu merekomendasikan diet salisilat dan bahan makanan buatan kepada anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Pada sebagian anak, diet ini berhasil namun ada juga yang tidak cukup berhasil. Beberapa ahli kemudian menyebutkan bahwa memang ada beberapa anak yang tidak cocok dengan bahan makanan.
E. Penanganan dan Strategi Pembelajaran
a) Penanganan
Penanganan yang diberikan pada kasus anak dengan kesulitan belajar tergantung pada hasil pemeriksaan yang komprehensif dari tim kerja. Tim ini terdiri dari berbagai tenaga profesional (sudah disebutkan di atas ) yang bekerja pada suatu klinik kesulitan belajar. Dengan demikian orang tua akan memperoleh pelayanan `one stop assessment’ yang mempermudah mereka dalam mencari pertolongan untuk anaknya. Penanganan yang diberikan pada anak dengan kesulitan belajar meliputi ;
A. Penatalaksanaan di bidang medis
 Terapi obat
Pengobatan yang diberikan adalah sesuai dengan gangguan fisik atau psikiatrik yang diderita oleh anak, misalnya ;
 Berbagai kondisi depresi dapat diberikan obat gol. Antidepresan
 GPPH diberikan obat gol. Psikostimulansia, misalnya Ritalin
 Terapi perilaku
Terapi perilaku yang sering diberikan adalah modifikasi perilaku. Dalam hal ini anak akan mendapatkan penghargaan langsung jika ia dapat memenuhi suatu tugas atau tanggung jawab atau berperilaku positif tertentu. Di lain pihak, ia akan mendapatkan peringatan jika ia memperlihatkan perilaku negatif. Dengan adanya penghargaan dan peringatan langsung ini maka diharapkan anak dapat mengontrol perilaku negatif yang tidak dikehendaki, baik di sekolah atau di rumah.
 Psikoterapi suportif
Dapat diberikan kepada anak dan keluarganya. Tujuannya ialah untuk memberi pengertian dan pemahaman mengenai kesulitan yang ada, sehingga dapat menimbulkan motivasi yang konsisten dalam usaha untuk memerangi kesulitan ini.
 Pendekatan psikososial lainnya ialah ;
• Psikoedukasi orang tua dan guru
• Pelatihan keterampilan sosial bagi anak
B. Penatalaksanaan di bidang pendidikan
Dalam hal ini terapi yang paling efektif ialah terapi remedial, yaitu bimbingan langsung oleh guru yang terlatih dalam mengatasi kesulitan belajar anak. Guru remedial ini akan menyusun suatu metoda pengajaran yang sesuai bagi setiap anak. Mereka juga melatih anak untuk dapat belajar dengan baik dengan tehnik-tehnik pembelajaran tertentu ( sesuai dengan jenis kesulitan belajar yang dihadapi anak ) yang sangat bermanfaat bagi anak dengan kesulitan belajar.
b) Strategi Pembelajaran
 Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Membaca (Disleksia)
1. Metode multisensori Metode ini menggunakan beberapa alat indera untuk memperkuat proses belajar, sebagaimana digambarkan dalam singkatan VAKT (visual, auditori, kinestetik dan taktil/peraba). Untuk menstimulasi seluruh alat indera ini, siswa mendengarkan guru mengucapkan suatu kata, mengucapkan kata tersebut kepada dirinya sendiri, mendengarkan diri mereka mengucapkan kata tersebut, merasakan gerakan otot saat mereka menelusuri kata yang tertulis, merasakan permukaan rabaan pada jari mereka, melihat tangan mereka bergerak saat menelusuri tulisan, dan mendengarkan diri mereka mengucapkan kata tersebut sambil menelusuri tulisan
2. Metode Orton-Gillingham.
Metode ini menfokuskan pada siswa untuk mempelajari bunyi huruf tunggal dan perpaduan (blending) huruf-huruf tersebut. Siswa mempelajari suatu huruf tunggal dan bunyinya dengan menggunakan teknik penelusuran (tracing). Bunyi-bunyi tunggal tersebut kemudian dikombinasikan dalam kelompok yang lebih besar, dan selanjutnya dalam kata-kata pendek.
3. Metode Fernald
Metode ini terdiri dari empat tahap,
Tahap 1. Siswa diminta memilih satu kata untuk dipelajari. Guru menuliskan kata pada sehelai kertas dengan krayon. Siswa kemudian menelusuri kata tersebut dengan tangannya, membuat kontak dengan kertas, sehingga menggunakan indera peraba dan kinestetik. Saat siswa menelusurinya, guru menyebutkan kata sehingga siswa mendengarnya (menggunakan indera pendengaran). Proses ini diulang hingga siswa dapat menulis huruf dengan benar tanpa melihat contoh. Sekali siswa mempelajari kata, contoh diletakkan dalam sebuah kotak arsip. Kata-kata tersebut terhimpun dalam kotak hingga terdapat kata-kata yang cukup bagi siswa untuk menulis suatu cerita. Cerita ini lalu diketik sehingga siswa dapat membaca cerita buatannya sendiri.
Tahap 2. Siswa tidak lagi diharuskan menelusuri setiap kata melainkan mempelajari kata-kata baru dengan melihat gurunya menulis sebuah kata dan membunyikan kata tersebut saat menulis.
Tahap 3. Siswa mempelajari kata-kata baru dengan melihat pada suatu kata yang tertulis dan menyebutkannya berulang-ulang pada dirinya sendiri sebelum menulis. Pada titik ini, siswa dapat mulai membaca buku.
Tahap 4. Siswa dapat mengenali kata-kata baru dari kemiripannya dengan kata atau bagian kata yang tertulis yang telah dipelajari. Sekarang siswa dapat menggeneralisasikan pengetahuan yang telah diperolehnya melalui keterampilan membaca.
f. Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)
Intervensi yang dilakukan terhadap siswa dengan gangguan disgrafia adalah:
1. Model Ekspresi Tertulis
Metode ini menggunakan serangkaian strategi, yaitu :
a) Guru meminta siswa secara berkesinambungan untuk membuat suatu tulisan, empat kali seminggu, masing-masingnya 50 menit.
b) Guru mengijinkan siswa memilih topik sendiri dalam membuat karangan/tulisan singkat.
c) Guru memberikan model tentang proses menulis dan berpikir strategik. Misalnya, guru memberi contoh tahapan menulis dengan mengatakan, “Aku ingin merencanakan suatu latar misterius untuk ceritaku. Bagaimana dengan sebuah rumah hantu? Selanjutnya, aku harus menentukan karakter-karakter dalam cerita ini…”
d) Guru menghindari penilaian yang menghukum. Guru sebaiknya juga memberi penilaian terhadap ide, bukan hanya teknik penulisan. Jika siswa membuat banyak kesalahan dalam berbagai aspek, guru hendaknya hanya mengkoreksi satu keterampilan saja, misalnya pemakaian huruf kapital. Bila siswa telah menguasai keterampilan tersebut, guru dapat berfokus pada aspek yang lain.
e) Guru memberi banyak masukan untuk ditulis oleh siswa, misalnya dengan mendiskusikan berbagai pengalaman keseharian siswa sebelum siswa mulai menulis.
f) Mengunakan prosedur cloze, yaitu guru menulis sebuah kalimat dengan satu kata dihilangkan, dan siswa diminta mengisinya dengan kata yang sebanyak mungkin berbeda, contohnya “Ali ____ bola itu.”
2. Model intervensi dalam hal meningkatkan kemampuan mengeja (spelling)
Strategi yang dapat dilakukan adalah:
a) Guru memberitahu siswa bahwa mereka akan mempelajari beberapa kata dengan cara baru. Siswa didorong untuk memilih suatu kata yang ingin mereka pelajari.
b) Guru menuliskan kata yang dipilih siswa dalam selembar kertas berukuran 4×10 inci, sementara siswa mengamati dan guru mengucapkan kata tersebut.
c) Guru meminta siswa untuk menelusuri kata tersebut, mengucapkannya beberapa kali, kemudian menuliskannya dalam selembar kertas terpisah sambil mengucapkannya.
d) Guru meminta siswa menulis kata tersebut berdasarkan ingatannya tanpa melihat pada tulisan sebelumnya. Jika penulisannya keliru, siswa mengulang langkah (3). Jika tulisannya benar, kertas tersebut dimasukkan dalam kotak arsip. Kata-kata dalam kotak arsip selanjutnya akan digunakan untuk menulis cerita.
e) Selanjutnya, siswa dapat mempelajari kata dengan mengamati guru menuliskannya, lalu siswa mengucapkan dan menulisnya. Pada tahap berikutnya, siswa dapat belajar hanya dengan mengamati suatu kata tertulis, lalu menulisnya. Pada akhirnya, mereka belajar hanya dengan mengamati suatu tulisan.
3. Model intervensi dalam hal menulis dengan tangan (handwriting)
Strategi yang dapat dilakukan adalah :
a) Guru melatih gerakan menulis pada siswa, misalnya dengan berlatih menggambar berbagai bentuk geometri, menulis huruf dan angka.
b) Guru mengatur posisi duduk siswa untuk menulis, yaitu menggunakan kursi yang nyaman dan meja dengan tinggi yang sesuai, kedua kaki siswa menempel di lantai, dan kedua lengan berada di atas permukaan menulis.
c) Guru melatih siswa memegang pensil dengan tepat.
d) Guru melatih siswa menjiplak bentuk dan huruf.
e) Guru melatih siswa menulis suatu huruf dengan menghubungkan titik-titik yang telah disediakan.
f) Guru melatih siswa menjiplak dengan petunjuk yang semakin berkurang. Awalnya siswa diminta menjiplak suatu huruf utuh, kemudian menjiplak huruf yang belum utuh dan harus melengkapinya. Pada akhirnya, petunjuk yang diberikan hanya sebuah garis dan siswa diminta menulis huruf secara utuh.
g) Guru meminta siswa menggunakan kertas bergaris.
h) Guru melatih siswa menulis sesuai dengan tingkat kesulitan huruf. Berdasarkan kemudahan, huruf latin diperkenalkan dalam urutan: kata pemula yaitu m, n, t, i, u, w, r, s, l dan e; kata yang lebih sulit yaitu x, z, y, j, p, h, b, k, f, g dan q; dan kombinasi huruf yaitu di, ke dan seterusnya.
i) Guru memberikan petunjuk verbal, yaitu membantu siswa menulis dengan mendengarkan arahan saat membentuk huruf, misalnya “turun-naik-berputar.” Ketika menggunakan teknik ini, guru harus menjaga supaya siswa tidak terganggu oleh arahan verbal yang diberikan. Setelah siswa berlatih menulis huruf tunggal, siswa belajar menulis kata dan kalimat.
 Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Berhitung Matematika (Diskalkulia)
Strategi yang dapat dilakukan guru untuk menangani siswa dengan gangguan
diskalkulia:
1. Guru mengajarkan prasyarat belajar matematika
2. Guru mengajarkan konsep konkrit sebelum konsep abstrak
3. Guru memberikan kesempatan untuk berlatih dan mengulang .Teknik yang dapat digunakan antara lain lembar kerja, permainan, teknik manajemen perilaku (seperti memberikan reward bila tugas telah diselesaikan)
4. Guru mengajari siswa untuk melakukan generalisasi pada situasi baru  Siswa perlu belajar menggeneralisasikan suatu keterampilan pada banyak situasi
5. Guru mengajarkan kosakata matematis .Siswa perlu mempelajari kosakata dan konsep matematika. Siswa dapat mengetahui operasinya tapi belum tentu mengetahui istilah yang tepat untuk operasi tersebut, misalnya penambah, pengali, pembagi, hasil.
6. Guru mengijinkan penggunaan jari dan menghitung di kertas
7. Guru menggunakan diagram dan menggambar konsep-konsep matematika
8. Guru memberikan pendampingan teman yang lebih mampu dalam berhitung
9. Guru menyarankan penggunaan kertas bekas
10. Guru menyarankan penggunaan pensil berwarna untuk membedakan berbagai permasalahan
11. Guru meminta siswa bekerja secara manipulatif
12. Guru membuat gambar-gambar dari soal yang berupa kalimat sehingga mudah dipahami siswa
13. Guru mengajarkan metode mnemonic untuk mempelajari langkah-langkah suatu konsep matematika
14. Guru menggunakan ritme dan musik untuk mengajarkan fakta-fakta matematika dan merangkaikan langkah-langkah menjadi suatu irama
15. Apabila memungkinkan, guru menjadualkan waktu belajar dengan komputer bagi siswa untuk mengingat dan berlatih
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. KESIMPULAN
Pengertian
Definisi kesulitan belajar yang dimuat dalam Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) tahun 1997. Didalamnya disebutkan bahwa “spesific learning disabilities” berarti suatu gangguan dalam satu atau lebih proses – proses psikologis dasar yang terlibat dalam pemahaman atau penggunaan bahasa lisan atau tertulis, yang dimanifestasikan dalam kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengar, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau melakukan perhitungan matematis (Lerner, 2003).
Klasifikasi
3. Berdasarkan Jenis Kelainannya
 Gangguan membaca (Disleksia)
 Gangguan matematik (Diskalkulia)
 Gangguan menulis ekspresif (Spelling Dyslexia, Spelling Disorder)
 Gangguan belajar lainnya / tidak spesifik
4. Berdasarkan kapan waktu terjadinya
 Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities)
 Kesulitan belajar akademis (akademic learning disabilities)
Karakteristik kesulitan belajar khusus digolongkan menjadi:
a. Fisik: Secara fisik anak yang mengalami kesulitan belajar tidak mengalami kelainan fisik yang menonjol.
b. Kecerdasan: dari aspek kecerdasannya, anak yang mengalami kesulitan belajar terbagi menjadi dua golongan:
 Anak yang memiliki tingkat potensi intelektual (kecerdasan) diatas normal / rata-tata
 Anak yang memiliki tingkat potensi intelektual (kecerdasan) normal / rata-tata
c. Sosial: Penyesuaian sosial kurang memadai karena anak tersebut dianggap sosok anak yang malas dan aneh.
d. Akademis: Anak yang mengalami kesulitan belajar akademis prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau bahkan sangat rend
Faktor Penyebab
Yang menjadi faktor penyebab dari kesulitan belajar khusus lebih kepada faktor internal anak. Kirk & Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:
1. Faktor Disfungsi Otak
2. Faktor Genetik
3. Faktor Lingkungan dan Malnutrisi
4. Faktor Biokimia
Penanganan dan Strategi Pembelajaran
Penanganan yang diberikan pada kasus anak dengan kesulitan belajar tergantung pada hasil pemeriksaan yang komprehensif dari tim kerja. Tim ini terdiri dari berbagai tenaga profesional (sudah disebutkan di atas ) yang bekerja pada suatu klinik kesulitan belajar. Dengan demikian orang tua akan memperoleh pelayanan `one stop assessment’.
Strategi Pembelajaran yang digunakan untuk anak yang mengalami kesulitan belajar disesuaikan dengan jenis gangguan atau kelainan yang dialami oleh masing-masing anak.
3.2. SARAN
1. Guru meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap problem – problem belajar yang dialami siswa
2. Guru meningkatkan kemampuan dalam merancang dan mengelola prosess belajar mengajar yang mengakomodasi siswa dengan gangguan kesulitan beajar (misalnya, mengurangi porsi tugas-tugas dan target penguasaan bahan-bahan bacaan bagi siswa yang mengalami disleksia). Selanjuntya guru dapat menggantikan dengan tugas yang dikerjakan sesuai keunggulan siswa
3. Pemerintah perlu memfasilitasi sekolah agar mampu mengelola siswa yang mengalami gangguan kesulitan belajar melalui program pendidikan inklusi. Fasilitasi ini misalnya berupa pelatihan guru tentang gangguan kesulitan belajar, alat peraga pendukung identifikasi dan intervesi serta referral dengan profesional terkait (psikolog).

 DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. (1999). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Yusuf, M. Sunardi, Abdurrahman, M. (2003). Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

http://www.kesulitanbelajar.org/index.php?option=com_content&task=view&id=15&Itemid=2

http://mutiaraendah.wordpress.com/2010/01/10/ciri-ciri-kesulitan-belajar/

http://andhiena.tblog.com/post/1969714487

http://www.mitrapulsa.com/teoribelajar.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s